BATAM — Suasana khidmat, hangat, dan penuh sukacita menyelimuti Gedung GBI Manhope Batam Centre, Senin (24/8/2026), ketika pimpinan denominasi gereja, lembaga Injili, yayasan pelayanan, serta Pengurus Daerah (PD) PGLII dari berbagai wilayah di Kepulauan Riau berkumpul dalam satu persekutuan melalui Fellowship Pimpinan Denominasi Gereja, Lembaga Injili, dan Pengurus Daerah (KSB) anggota Persekutuan Gereja-Gereja dan Lembaga-Lembaga Injili Indonesia (PGLII) Kepulauan Riau. Pertemuan tersebut tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan perjumpaan antarpelayan, tetapi juga menjadi momentum penting untuk memperkuat komunikasi, persaudaraan, serta semangat kebersamaan gereja-gereja dan lembaga Injili di seluruh Kepulauan Riau.
Fellowship yang berlangsung di Kota Batam tersebut terasa semakin istimewa karena dirangkai dalam suasana syukur atas dua momentum besar, yakni HUT PGLII ke-55 dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81. Dua peristiwa tersebut menjadi kesempatan bagi seluruh peserta untuk tidak hanya merayakan perjalanan organisasi dan bangsa, tetapi juga melakukan refleksi mengenai panggilan gereja di tengah kehidupan masyarakat dan bangsa. Setelah 55 tahun perjalanan PGLII dan 81 tahun Indonesia merdeka, gereja kembali diingatkan bahwa keberadaannya bukan hanya untuk membangun kehidupan internal umat, tetapi juga untuk mengambil bagian dalam menghadirkan nilai-nilai kasih, kebenaran, perdamaian, keadilan, dan kepedulian di tengah masyarakat.
Mengangkat tema “Unity and Influence” yang bersumber dari Matius 5:13-14, fellowship tersebut membawa pesan yang sangat kuat mengenai identitas dan panggilan gereja. Gereja dipanggil bukan sekadar untuk hadir dan eksis, tetapi menjadi garam dan terang yang mampu memberikan rasa, menghadirkan pengharapan, serta menerangi lingkungan di sekitarnya. Tema tersebut terasa semakin relevan bagi Kepulauan Riau yang memiliki masyarakat dengan latar belakang budaya, sosial, dan denominasi yang beragam. Di tengah keberagaman tersebut, gereja ditantang untuk tidak menjadikan perbedaan sebagai sekat, melainkan menjadikannya kekayaan untuk membangun pelayanan yang lebih luas dan memberikan pengaruh positif bagi masyarakat.
Ibadah fellowship berlangsung dalam suasana yang khidmat dan penuh kebersamaan. Penyampaian Firman Tuhan disampaikan oleh Pdt. dr. Surya H. Wijaya, M.Th., yang juga dikenal sebagai anggota Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Batam. Sebagai tuan rumah dari GBI Manhope, Pdt. dr. Surya menyampaikan pesan teologis yang mengajak para pemimpin gereja dan lembaga Injili untuk kembali melihat secara serius arti penting kesatuan dalam pelayanan. Menurutnya, kesatuan gereja bukan sekadar slogan atau retorika organisasi, melainkan kekuatan yang harus diwujudkan melalui kehidupan dan kerja bersama.
“Kesatuan adalah kekuatan. Ketika kita berjalan sendiri, kita mudah goyah. Tetapi ketika kita bersatu dalam Kristus, kita menjadi kekuatan yang tidak tergoyahkan,” ujarnya di hadapan para pimpinan gereja dan lembaga yang hadir. Pesan tersebut menjadi salah satu penekanan penting dalam fellowship. Dalam konteks pelayanan yang semakin kompleks, gereja tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Ada banyak tantangan yang membutuhkan kolaborasi, komunikasi, dan kebersamaan. Ketika gereja memilih untuk saling mendukung dan memperkuat, maka pengaruh yang dihasilkan pun akan menjadi jauh lebih besar.
Pdt. dr. Surya juga mengingatkan bahwa gereja sebagai duta Kristus memiliki panggilan untuk menjadi terang sekaligus membawa pesan kenabian bagi bangsa. Gereja tidak boleh hanya menjadi penonton terhadap berbagai dinamika yang terjadi di tengah masyarakat. Kehadiran gereja harus dapat dirasakan melalui pelayanan dan tindakan nyata. Dalam konteks tersebut, keberagaman denominasi tidak seharusnya dipandang sebagai penghalang. Sebaliknya, keberagaman dapat menjadi kekayaan yang memperlihatkan luasnya karya Allah yang melampaui berbagai sekat dan perbedaan manusia. Panggilan sebagai garam dan terang akan semakin kuat ketika gereja mampu membangun persekutuan yang didasarkan pada kasih, kerendahan hati, dan kebersamaan.
Momentum fellowship semakin bermakna dengan kehadiran Ketua PD PGLII Kota Batam, Pdt. Donal Kawengian, S.Th., M.Pd., yang hadir secara langsung dan dipercaya untuk memimpin doa dalam rangkaian ibadah. Kehadiran tersebut menjadi bentuk dukungan nyata PD PGLII Kota Batam terhadap berbagai agenda strategis PGLII Kepri, sekaligus memperlihatkan komitmen untuk terus memperkuat kesatuan tubuh Kristus di wilayah Kepulauan Riau. Doa yang dipimpin tersebut juga menjadi pengingat bahwa seluruh proses organisasi dan pelayanan pada akhirnya harus ditempatkan dalam tuntunan Tuhan serta diarahkan bagi kemuliaan-Nya.
Fellowship tersebut dihadiri oleh berbagai unsur pimpinan dan perwakilan denominasi gereja, lembaga Injili, yayasan pelayanan, serta Pengurus Daerah PGLII dari sejumlah kabupaten dan kota di Kepulauan Riau. Di antara yang hadir terdapat perwakilan dari Sinode GPIN, YII, GKDI, Sinode GKKI, GESBA, GSII, KIBAID, GMII, YPPII Batu, GPIBI, GSJA, GPI Jalan Suci, GBI, GEKARI, GKII, GKPB, GPI ICM, Yayasan Bina Insan Muda (YBIM), serta Pengurus Daerah PGLII Batam, Lingga, dan Karimun. Kehadiran berbagai unsur tersebut menjadi gambaran nyata bahwa PGLII Kepri memiliki ruang yang terbuka bagi gereja dan lembaga Injili untuk membangun komunikasi dan kebersamaan lintas denominasi.
Perjumpaan tersebut memperlihatkan bahwa perbedaan denominasi tidak harus menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri. Justru dalam keberagaman itulah gereja dapat saling melengkapi. Ada gereja yang memiliki kekuatan dalam bidang pendidikan, ada yang kuat dalam pelayanan sosial, ada yang fokus pada misi dan penginjilan, ada yang bergerak dalam pembinaan generasi muda, dan ada pula yang memiliki pengalaman panjang dalam membangun pelayanan masyarakat. Ketika seluruh potensi tersebut dipertemukan melalui komunikasi dan kolaborasi, maka pelayanan dapat menghasilkan dampak yang lebih luas.
Semangat “Unity and Influence” karena itu diharapkan tidak berhenti di dalam gedung gereja atau hanya menjadi tema dalam sebuah kegiatan. Kesatuan harus diterjemahkan dalam tindakan nyata. Gereja diharapkan mampu membangun jejaring, membuka ruang kolaborasi, saling mendukung dalam pelayanan, serta hadir di tengah masyarakat dengan membawa nilai-nilai kasih dan kepedulian. Influence atau pengaruh yang dimaksud bukanlah tentang mencari kekuasaan, melainkan menghadirkan perubahan positif melalui keteladanan, pelayanan, kepedulian sosial, pendidikan, pembinaan generasi, dan kesaksian iman.
Kepulauan Riau dengan karakter wilayah kepulauan juga membutuhkan jejaring pelayanan yang kuat. Jarak geografis antara satu wilayah dengan wilayah lainnya tidak boleh menjadi penghalang untuk membangun persaudaraan. Karena itu, fellowship yang dilaksanakan secara bergilir di berbagai daerah menjadi salah satu cara untuk mendekatkan hubungan antargereja dan lembaga Injili. Setelah Batam menjadi tuan rumah, fellowship berikutnya direncanakan untuk dilaksanakan di Bintan. Rotasi lokasi tersebut diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada setiap daerah untuk merasakan semangat kebersamaan sekaligus menjadi bagian aktif dalam membangun persekutuan PGLII Kepri.
Rencana pelaksanaan fellowship di Bintan juga menunjukkan bahwa semangat kebersamaan tersebut tidak berhenti pada satu kegiatan. Ada upaya untuk membangun kesinambungan komunikasi dan menjaga agar hubungan antarpelayan terus berkembang. Dari Batam menuju Bintan, dari satu wilayah menuju wilayah lainnya, semangat persaudaraan diharapkan terus bergerak dan menjangkau semakin banyak gereja serta lembaga Injili di Kepulauan Riau. Dengan demikian, fellowship tidak hanya menjadi kegiatan tahunan, tetapi dapat berkembang menjadi ruang yang memperkuat jejaring pelayanan dan kolaborasi.
Rangkaian fellowship kemudian ditutup dengan doa bersama bagi bangsa Indonesia dan secara khusus bagi Kepulauan Riau. Doa tersebut menjadi ungkapan kerinduan agar damai sejahtera, keadilan, keamanan, dan pembangunan dapat terus menyertai kehidupan masyarakat. Gereja kembali diingatkan bahwa dirinya merupakan bagian dari bangsa dan masyarakat. Karena itu, gereja memiliki tanggung jawab untuk ikut mendoakan, melayani, dan memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan di mana gereja berada.
Momentum HUT PGLII ke-55 dan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 akhirnya menjadi ruang refleksi bahwa perjalanan panjang organisasi dan bangsa harus diisi dengan karya nyata. Gereja tidak cukup hanya bersyukur atas perjalanan masa lalu, tetapi juga perlu mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Tantangan pelayanan terus berubah, generasi baru tumbuh dengan realitas yang berbeda, dan masyarakat membutuhkan kehadiran gereja yang mampu menjawab persoalan zaman dengan kasih, hikmat, dan tindakan nyata.
Fellowship PGLII Kepri di Kota Batam pun menjadi sebuah penegasan bahwa gereja memiliki kekuatan besar ketika memilih untuk bersatu. Persatuan bukan berarti menyeragamkan semua denominasi atau menghilangkan identitas masing-masing. Persatuan berarti bersedia berjalan bersama di tengah perbedaan, saling menghormati, saling melengkapi, dan menempatkan kepentingan pelayanan bersama di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.
Begitu pula dengan pengaruh. Gereja tidak dipanggil untuk mencari kekuasaan, tetapi untuk menghadirkan kebaikan. Gereja dipanggil menjadi garam yang memberi rasa dan terang yang menerangi. Pengaruh gereja akan semakin kuat ketika iman diterjemahkan menjadi tindakan, ketika kasih diwujudkan melalui pelayanan, dan ketika persaudaraan tidak hanya dibicarakan tetapi benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Dari Kota Batam, semangat itu kembali dinyalakan. Di tengah keberagaman denominasi dan luasnya wilayah Kepulauan Riau, gereja dan lembaga Injili dipanggil untuk terus membangun jembatan, bukan tembok; membangun kerja sama, bukan persaingan; serta menghadirkan pengaruh yang membawa berkat bagi masyarakat. Fellowship ini menjadi salah satu momentum untuk mengingatkan bahwa ketika gereja bersatu dalam Kristus, ada kekuatan besar yang dapat dihadirkan bagi sesama dan bangsa.
Pada akhirnya, pesan “Unity and Influence” bukan hanya sebuah tema, melainkan sebuah panggilan. Panggilan agar gereja tetap bersatu dalam Kristus dan tidak kehilangan arah di tengah perubahan zaman. Panggilan agar setiap gereja dan lembaga Injili berani keluar dari ruangnya masing-masing untuk menjadi berkat bagi masyarakat. Dan panggilan agar api pelayanan serta pemberitaan Injil terus menyala di seluruh penjuru Kepulauan Riau.
Unity and Influence — Bersatu dalam Kristus, Berdampak bagi Sesama.
Dari Batam untuk Kepulauan Riau. Dari gereja untuk masyarakat. Dari iman untuk tindakan nyata.
Soli Deo Gloria.
(IMAMel)
#PGLIIOurHome
#UnityAndInfluence
#PGLIIBATAM
#MUSDAPGLIIBATAM
#INFOPGLII
#PGLIIKepri
#PGLII55Tahun
#HUTRI81
#APIInjilTerusMenyala
